Makalah | Ontologi Dalam Perspektif islam BAG-2

Sambungan Dari artikel sebelumnya :
 Ontologi dalam perspektif islam Bag 1

B. Ontologi Perspektif Islam
Pengetahuan manusia hakekatnya datang dari Allah Swt. yang didapati melalui beberapa saluran. Saluran ini pun masih terkait erat dengan paham manusia tentangwujud. Paham wujud seperti di atas (islamic ontology) memberikan pemahaman bahwa saluran ilmu bagi Islam terdiri dari berikut ini:
Pertama, panca indera eksternal, yang meliputi peraba (touch), perasa (taste), pencium (smell), pendengaran (hearing), dan penglihatan (sight);
Kedua, panca indera internal, yakni indera bersama (common sense atau al-hiss al-musytarak), representasi (representaion atau al-khayaliyyah), estimasi (estimationatau al-wahmiyyah), rekoleksi (retention/recollection atau al-hafizah/al-dhakirah), imaginasi (imagination atau al-khayal/al-mutakhalliyyah).
Dalam hal ini, menurut Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud, “Islam tidak pernah mengecilkan peranan indera, yang pada dasarnya merupakan saluran yang sangat penting dalam mencapai pengetahuan tentang reality empiris”.
Intelek atau ‘aql dalam Islam tidak saja identik denga rasio, karena rasio bersifat parsial, sebatas elemen sensasional, di mana fakultas mental bisa mensistematisasikan dan menginterpretasikan fakta berdasarkan pengalaman inderawi dalam struktur logik, namun ia juga sebagai organ spiritual pengenal yang disebut hati (heart), atau bahasa lainnya dinamakan intuisi. Dengan demikian, intelek adalah penghubung antara rasio dengan intuisi. Konsekuensinya, “Siapa saja yang membatasi fungsi akal fikiran sebagai aspek yang rasional dan dapat dicerap oleh indera, maka mereka telah menyelewengkan akal fikiran dari pada kualitas yang sebenarnya, dan dengan demikian, menjadikan akal fikiran mereka tidak sehat”. Dengan cara pandang seperti ini, intelek “mampu memahami secara langsung terhadap kebenaran-kebenaran agama, wujud Tuhan, dan segala sesuatu yang wujud (mawjudat atau existences).
Malah kekuatan akal dan ilham insan mampu mencapai pemahaman langsung terhadap Wujud (Wujud atau Existence) itu sendiri, sebagai suatu kenyataan mutlak (ultimate reality)”.
Laporan yang benar alias khabar sadiq adalah sumber ilmu yang tak kalah pentingnya dalam Islam. Maksud laporan yang benar adalah berita yang terbukti secara terus menerus dan disampaikan penyampai yang berakhlak mulia yang tidak memungkinkan akal fikiran kita menuduh mereka berbuat penyelewengan informasi. Sumber ini disebut sumber yang mutawatir, seperti hadits Mutawatir, dan ini jenis yang pertama. Jenis yang kedua adalah berita mutlak, yang dibawa oleh Nabi berdasarkan wahyu.
Sedangkan aksiologi, adalah paham tentang nilai (value). Mengapa science dikaji, karena ada nilainya, dianggap berguna. Lalu apa nilainya?
Nah ini yang lagi-lagi harus melihat pandangan asasnya tentang wujud (ontology). Karena Barat melihat yang wujud hanyalah materialis, maka nilainya juga hanya material. Ia tak mempedulikan nilai-nilai yang lain. Inilah yang disebut pemateri sebagai yang tidak mempunyai maqaashid.
Sedangkan Islam, berdasarkan paham ontologisnya, melihat aksiologi sains itu berdasarkan nilai-nilai yang lebih tinggi, yang bukan saja material. Sehingga dalam Islam ilmu akan disebut sains kalau ia mempunyai tujuan potistif secara fisikal dan metafisikal. Inilah yang oleh pemateri disebut dengan maqaashid syari’ah.
Sebagai contoh, di dunia pertanian melalui research yang mendalam ditemukanlah pupuk-pukuk mutakhir yang berbasiskan kimia. Para ahli kimia tahu bahwa pupuk itu banyak mengandung racun yang sejatinya berbahaya bagi kelangsungan kehidupan manusia, cepat atau lambat. Meski demikian, pandangan Barat tetap dikatakan hasil sains, karena memandangnya secara material, dan menghasilkan kegunaan material, tak peduli beresiko bagi manusia atau tidak. Namun bagi Islam itu tidak termasuk sains, karena secara aksiologi Islam berbahaya bagi manusia.
Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa sains Barat secara fundamental sebagai tantangan dan rival terberat bagi Islam dalam konteks keilmuan. Karena Barat-lah yang mengganti ilmu Allah Swt. yang universal itu menjadi sempit dan parsial.
Tapi kemudian yang sempit dan parsial ini dipaksakan menguasai yang komplet dan universal. Maka akibatnya banyak kesalahan dan kekurangan yang selalu mengancam eksistensi peradaban umat manusia. Oleh itu, hendaknya kaum Muslimin mengembalikan sains itu sebagaimana mestinya, di tempat dan posisi yang benar, sebagaimana Islam telah menempatkannya.
2.3. Tokoh-tokoh Ahli Filsfat Islam
1.  Al- Farabi mengatakan bahwa filsafat adalah mengetahui semua yang wujud karena ia wujud.(al-ilm bil maujudat bimahiya maujudah). Tujuan terpenting mempelajari filsafat adalah mengetahui tuhan, bahwa ia esa dan tidak bergerak, bahwa ia memjadi sebab yang aktif bagi semua yang ada , bahwa ia mengatur alam ini dengan kemurahan, kebijaksanaan dan keadilan-Nya, Seorang filosof atau al hakim adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang zat yang ada dengan sendirinya (al-wajibli-dzatihi), Wujud selain Allah , yaitu mahluk adalah wujud yang tidak sempurna.
2. Ibnu Sina, Pembagian filsafat bagi Ibnu sina pada pokoknya tidak berbeda denganpembagian yang sebelumnya, filsafat teori dan filsafat amalan. Filsafat ketuhanan menurut Ibnu Sina adalah: 1. ilmu tentang turunnya wahyu dan mahluk-mahluk rohani yang membawa wahyu itu, dengan demikian pula bagaimana cara wahyu itu disampaikan, dati sesuatu yang bersifat rohani kepada sesuatu yang dapat dilihat dan didengar. 2. ilmu akherat (Ma’ad) antara lain memperkenalkan kepada kita bahwa manusia ini tidak dihidupkan lagi badannya, maka rohnya yang abadi itu akan mengalami siksa dan kesenangan.
3. Al Kindi, diikalangan kaum muslimin , orang yang pertama memberikan
pengertian filsafat dan lapangannya adalah Al-kindi, ia membagi filsafat 3 bagian :
(1) Thibiyyat (ilmu fisika) sebagi sesuatu yang berbenda
(2) Al-ilm-Urriyadli (matematika) terdiri dari ilmu hitung , tehnik, astronomi, dan musik, berhubungan dengan benda tapi punya wujud sendiri, dan yang tertinggi adalah
(3) Ilm ur-Rububiyyah (ilmu ketuhanan)/ tidak berhubungan dengan benda sama sekali.
4. Ibnu Rusydi dilahirkan pada tahun 1126 M di Qurtubah (Cordoba) dari sebuah keluargabangsawan terkemuka. Ayahnya adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di Cordoba. Abad Ke 12 merupakan zaman keemasan perkembangan pengetahuan islam di bawah kekuasaan Dinasti Abasiah. Berpusat di Andalusia (spanyol) . Para penguasa muslim pada masa itu mendukung sekali perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan mereka sering memerintahkan para ilmuwan untuk menggali kembali warisan intelektual Yunani yang masih tersisa, sehingga nama-nama ilmuwan besar Yunani seperti Aristoteles, Plato, Phitagoras, ataupun Euclides dengan karya-karyanya masih tetap terpelihara sampai sekarang.
Selain sebagai seorang ahli filsafat, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, sastra, logika, ilmu-ilmu pasti, di samping sangat menguasai pula pengetahuan keislaman, khususnya dalam tafsir Al Qur’an dan Hadits ataupun dalam bidang hukum dan fikih. Bahkan karya terbesarnya dalam bidang kedokteran, yaitu Al Kuliyat Fil-Tibb atau (Hal-Hal yang Umum tentang Ilmu Pengobatan) telah menjadi rujukan utama dalam bidang kedokteran. .
Hal terpenting dari kiprah Ibnu Rusydi dalam bidang ilmu pengetahuan adalah usahanya untuk menerjemahkan dan melengkapi karya-karya pemikir Yunani, terutama karya Aristoteles dan Plato, yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad lamanya. Antara tahun 1169-1195, Ibnu Rusydi menulis satu segi komentar terhadap karya-karya Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Semua komentarnya tergabung dalam sebuah versi Latin melengkapi karya Aristoteles. Komentar-komentarnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan tradisi intelektual kaum Yahudi dan Nasrani. Analisanya telah mampu menghadirkan secara lengkap pemikiran Aristoteles. Ia pun melengkapi telaahnya dengan menggunanakan komentar-komentar klasik dari Themisius, Alexander of Aphiordisius, al Farabi dengan Falasifah-nya, dan komentar Ibnu Sina. Komentarnya terhadap percobaan Aristoteles mengenai ilmu-ilmu alam, memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam menghasilkan sebuah observasi.
5. Al Ghazali, filsafat menurutnya dapat diklasifikasikan dalam 4 bagian :
1. Aritmetik, geometri yang sah dan dibolehkan
2. Logika yang merupakan bagian dari teologi
3. Ketuhanan yang mendiskusikan zat dan sifat-sifat ilahi, yang juga merupakan teologi
4. fisika yang bisa dibagi dalam 2 bagian: pertama yang terlibat dalam diskusi-diskusi yang bertentangan dengan syariah dan dengan demikian bahkan tak dapat dianggap sebagai ilmu , bagian lain mendiskusikan sifat-sifat tubuh, bagian 2 mirip dengan ilmu kedokteran , meskipun yang kedua lebih baik dari yang pertama, bagian fisika ini kurang berguna, sedang ilmu kedokteran sangat bermanfaat.
Selanjutnya Al-Ghazali membahas ilmu yang wajib kifayah (sesuatu yang wajib
atas keseluruhan masyarakat selama kewajiban memenuhi kebutuhan sosial tersebut masih ada, tetapi setelah kewajiban itu telah dilaksanakan oleh sejumlah individu otomatis yang lain terbebas dari kewajiban itu. Beliau mengklasifikasikan ilmu kepada ”ilmu agama ” dan ”ilmu non agama” (ulum syar’i), beliau maksudkan kelompok ilmu yang di ajarkan lewat ajaran-ajaran Nabi dan wahyu, sedangkan yang lain adalah kelompok non agama. Ilmu non agama juga diklasifikasikan kepada yang terpuji (mahmud) ,dibolehkan (mubah) dan tercela (madzmum).
Al-Ghazali memasukkan sejarah ke dalam kategori ilmu-ilmu mubah, sihirkategori ilmu yang tercela, ilmu terpuji yang penting didalam kehidupan sehari-hari termasuk wajib kifayah, lebih dari itu hanya memberi manfaat tambahan kepada mereka yang mempelajarinya, ilmu tentang obat, matematika, kerajinan yang diperlukan oleh masyarakat, ada dalam kategori fardhu kifayah, Penyelidikan dalam kedokteran atau matematika dimasukan pada ketegori bermanfaat untuk orang yang mempelajarinya, tanpa keharusan mempelajarinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Hanafi, Ma, Pengantar Filsafat Islam , Bulan Bintang Jakarta: 1990
DR. Ali Anwar,M si dkk Rangkuman Ilmu Perbandingan Agama Dan Filsafat , Pustaka
Setia Bandung, 2005.
H. Endang Saifuddin Anshari Ilmu, Filsafat dan Agama ,Bina ilmu Surabaya 1979
Sumber lain:
www.hidayatullah.com
www.penulislepas.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Komentar dong masbro...
jangan cuma Baca, Copas, Ngacir... hehe

  • Digg
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Yahoo! Buzz
  • Technorati
  • Facebook
  • TwitThis
  • MySpace
  • LinkedIn
  • Google
  • Reddit
  • Netvibes
Info Radio Streaming
Radio Online Untuk Web Anda
www.kunjungisaja.ah
Butuh motivasi Hidup
Cerita Tentang Kehidupan Dan Cinta
Design by Blogger Tune-UpCopyright © 2011 Online Library | Makalah | e-Book | Powered by Blogger